Kawan,, engkau mungkin mengetahui dengan pasti siapa dia. Yah,, dia adalah seorang penguasa daerah ini. Ia sangat sering kita sebut sebagai Raja. Tapi dia sekarang seakanakan telah hilang ditelan oleh laju pesat perkembangan jaman. Entah kapan lagi aku akan bertemu dengan seorang penguasa seperti dia. Seorang yang bijak, santun, arif dan sangat bijak. Kapan hari seorang kawan yang lain sempat bertanya padaku tentang dirinya. Dikiranya aku sangat dekat dengan sang Raja, kerana aku bertempat tinggal disamping rumahmu yang selalu dikelilingi oleh penjagapenjagamu.
Kawan itu bertanya padaku “Bagaimana kabar sang Raja wahai kawanku?”
“Aku juga tidak tahu kawan, aku juga tak pernah bertemu dengannya” begitu jawabku.
“Kenapa dia sekarang jarang sekali terlihat sekarang ini?” dengan sigap ia bertanya lagi padaku
Dan dengan jelas aku jawab “Dia mungkin sedang berjalanjalan di daerah yang lain, entah itu hanya melancong atau bersilaturahmi dengan kawankawan kita disana aku tak tahu juga”
“Lho.. Padahal dirimu kan bertetangga dengannya, kenapa dirimu malah tak tahu kemana dia perginya??”
Gelontorangelontoran pertanyaan itu semakin membuat lidahku semakin kelu, tak sepatah katapun yang keluar dari bibir dan lidahku. Dan aku hanya menggeleng kepadanya yang menandakan bahwa aku benarbenar tak tahu dimana dia berada sekarang. Dan sang kawanku ini semakin tertunduk karena dia tak mendapati jawaban seperti yang ia harapkan.
Dan aku merasa bersalah karena aku tak mampu menjawab semua pertanyaan yang ia lontarkan kepadaku. Dan akupun pulang dengan wajah terasa tersayati karena tak mampu menjawab pertanyaanpertanyaan yang kawanku lontarkan tadi. Sesampainya aku dirumah pada sore itu, langsung kurebahkan tubuhku diatas sebuah dipan bambu yang biasa kawankawanku menyebutnya dengan nama amben, berniat untuk mengistirahatkan pundakku yang semakin kiu (ngilu) saja terasa. Diselasela waktu itupun juga aku masih saja membayangkan semua pertanyaanpertanyaan seorang kawan siang itu. Dan sampai saat ini pertanyaan itu selalu mengganggu diriku.
Tibatiba, ditengah kepungan pertanyaan itu aku tersadar akan sesuatu hal. Yah… aku ingat jika beberapa bulan yang lalu seorang kurir dari rumah sang Raja menetipkan sepucuk surat kepadaku. Dan sampai sekarangpun surat itu masih belum kubaca, karena aku sendiri waktu menerima itu akan berangkat ke tempat dimana aku berkarya. Dan langsung saja aku hentikan semua lamunanlamunan kosongku itu. Aku berlari kepada istriku yang juga baru datang dari tempat kerjanya.
“Dik,, dik,,,”
“Engkau masih ingat tidak tentang sepucuk surat yang aku berikan kepadamu 3 hari yang lalu. Surat yang terbungkus warna kuning keemasan itu lho..” gelontorku pada istriku.
Ia pun menjawab dengan suaranya yang halus “Surat itu aku taruh di dalam lemari ditengahtengah tumpukantumpukan kertas sampah kita mas..”
Akupun terkaget mendengarnya “Lho… kok ditaruh di tumpukan itu dik?”
“Aku kira itu juga seperti kertas sampah yang sempat kita bela itu.. hehehehe maaf mas..” jawabnya masih dengan suaranya yang lembut dan senyumnya yang manis itu.
“Iya sayang tak apa kok, aku kemarin benarbenar lupa bercerita itu kepadamu” jawabku.
“Mari masuk mas… ndak enak dilihat tetangga yang tak tahu siapa kita ini” ajaknya kepadaku.
Dan kamipun masuk kedalam rumah, menuju pada ruangan dimana tempat surat itu berada, dan mataku mendapati warna kuning keemasan itu sudah terlihat usang karena mungkin 2 hari terhimpit diantara kertas-kertas sampah milikku dan istriku. Den terkena hawa lembab yang ditimbulakan oleh jamurjamur dalam lemariku.
Dengan perlahan aku membuka amplop berwarna emas usang itu, dan istriku telah menyibukan dirinya dengan notebooknya entah apa yang ia kerjakan saat ini aku tak mau mengganggunya. Dan sekarang kertas surat itu telah ku pegang, kertas warna hitam dengan tinta warna putih yang hanya bertuliskan tiga buah kata
“SELAMAT TINGGAL KAWAN”
Semakin semburat saja isi otakku dengan katakata itu, dan membuat aku semakin tak dapat memahami semua yang telah terjadi.



0 comments:
Posting Komentar