Selasa, 01 Februari 2011

Aku, Hujan, Petir, dan Sebuah Memoar Tentang..................................

4.

"Hanya bisa terkesima melihat ciptaanNYA"

Mungkin kata-kata diataslah yang mampu menggambarkan bagaimana aku begitu tergila-gila pada petir dan hujan. Yah,, setiap manusia mempunyai memoar-memoar tersendiri dengan hujan, ada yang senang, sedih, dan mungkin juga si manusia merasa takjub dengan hujan. Yang sangat aku suka disaat hujan turun, adalah lesatan-lesatan cahaya yang orang-orang sering menyebutnya dengan“PETIR”. Dan orang-orangpun takut sekali saat melihatnya, namun itu sama sekali tak berlaku padaku. Aku sangat suka petir, entah mulai kapan aku suka padanya. Dan yang jelas aku sangat terhibur dengan hadirnya dirinya. Memang terasa aneh sih, aku juga merasa kesukaanku ini aneh. Walupun terkadang saat mendengar suaranya perasaan takut itu muncul, tapi perasaan takut itu yang aku suka.

Memoarku bersama sang Hujan dan Petir di tahun kemarin masih terangkum jelas dalam otakku. Sekitaran akhir dan awal april, masih di kontrakan para Lowo, kalau tidak lupa pada hari minggu, deru angin yang mengiringi hujan begitu derasnya mengguyur dan meniup lingkungan Tegal-Boto atau yang aku kenal dengan sebutan “Kampus”, saking derasnya jarak pandangpun berkurang seketika karena tertutup oleh rapatnya hujan yang turun sore itu. Aku sendiri terkunci dalam kesendirian di kontrakan tersebut. Bisa dikatakan hari itu seperti kiamat yang masih semi-semi kecil (hehehehe). Gempuran air menyerbu menerpa jendela rumah itu dengan begitu derasnya, seperti akan pecah. Diiringi sang angin dan petir, gerombolan air langit itu menerobos masuk kedalam rumah lewat sela-sela pintu dan kaca yang menganga kecil karena tak mampu menahan gempuran mereka semua. Kalian tahu tidak kawan apa yang terjadi setelah semua itu terhenti. Kamarku yang berada di garis depan kontrakan itu habis terlalap air yang membanjiri semua lantai. Dan tentunya bukan kamarku saja yang hancur terkena gempuran mereka, kamar kawan-kawanku semuapun juga habis mereka lalap dengan tetesan mereka. Dapat kalian bayangkan bagaimana bingungnya aku saat mereka menyerbu bersama-sama. Berlari kesana kemari menadahi mereka yang jatuh bagai serpihan bom atom amerika yang meluluh lantakkan kota Hiroshima (Wuih,,, kayak perang dunia wae…).

Sesaat setelah mereka lelah menyerbu bumi dengan ganasnya. Kami bertigapun keluar (Upss,, iyah ada yang terlupa. Ternyata bala bantuan datang menolongku, yah mereka adalah Copek dan Pokes yang baru pulang dari kuliah, seingatku seh..) melihat imbas dari kejadian tersebut. Wah… tak disangka, semua genting yang menutupi rumah kontrakan itu terangkat, dan beruntung tak sampai jatuh seperti pondokan cewek yang berposisi sekitar 100m dari kontrakan kami. Bayangkan saja, hampir semuanya menghilang dan dan pecah karena kekuatan angin bercampur hujan.

Hemh,,, cukup cerita itu yang mampu menggambarkan bagaimana kekuatan Hujan bila bercampur dengan yang namanya angin. Untuk “Petir” yang cahayanya begitu indah kalau ia sedang bersanding dengan rasa takut. Kalau dengan yang satu ini aku dan adikku (yoga tentunya) yang mempunyai cerita dengannya. Kalau tidak salah saat aku pulang dari survey ketempat aku KKN. Yah.. dalam perjalan pulang menuju ke Jember, cuaca mendung mengiringi kepulanganku. Sesampainya dikontrakan itu, sambil menenteng dua bungkus nasi yang telah dipesan adikku (wes kelaparan adikku ternyata menungguku .hehehehe sepurane lhe…) hujanpun turun dengan begitu derasnya. Hehehe,, pasti bisa ditebak bukan, yah,, benar sekali. Petir dan saudaranya yang bernama guruh datang. Bak dentuman bom-bom Israel yang menyerbu Palestina (kata adekku hehehehe…) dan sensasi ketakutan dan senang kembali melebur menjadi satu lagi. Kalau tidak salah ingat itu terjadi disekitar pertengahan bulan Juli tepatnya tanggal 11 hari minggu sore. Hehehe,, dan secara tidak sadar aku semakin keranjingan dengan sensasi tersebut.

5.

Dibagian akhir ini aku juga ingin bercerita tentang masa-masa aku KKN (Kuliah Kepada keNyataan) walau tidak secara detail dan penuh. Hehehe.. bagaimana tidak karena dalam masa itu terlalu banyak memoar yang aku simpan sebagai pelajaran entah itu baik atau buruk yang penting menambah pengalamanku tentang yang namanya kehidupan. Jadi hanya sepintas saja aku gambarkan, sejalan dengan kenangan yang masih tersimpan erat dalam otakku.

Dalam masa itu aku ditemani para siswa-siswi “Sekolahanku” dari berbagai macam jurusan, mulai dari Sastra sampe Kedokteranpun masuk dalam kelompokku. Kelompok 24 tepatnya, kami semua bersembilan dengan komposisi 2 orang cowok dan 7 orang cewek. (Semakin jelas kalau gini perbandingannya ternyata jumlah cewek lebih banyak dari pada cowok. Wkwkwkwkwk) Kusebutkan satu per satu komposisi tersebut biar lebih jelas, mereka semua adalah, aku (Andriek Martha Prayoga) yang didaulat sebagai coordinator kelompok tersebut. Berikutnya, Ike Yunitasari seorang cewek yang ngakunya sih kuliah di jurusan Adm. Bisnis dan waktu itu masih kerja di A**S, dan aku masih ingat saat pertama kali bertemu di LPM dia masih memakai seragam kerjanya, dia kami panggil Kopler (agak dung-dung.. hehehehe), entah bagaimana alasan dan ceritanya aku tak mengerti dan yang jelas dia Kopler banget pokoknya. Pernah suatu ketika saat kami semua beristirahat setelah beraktivitas dia menari-nari ndak jelas dalam kamar dan kalau tidak salah background lagunya adalah CINTA SATU MALAM yang begitu ngetren sekali kala itu, pokoknya dia ratunya kopler wes pokoke. Dan kabar terakhir yang aku terima tentang dirinya saat ini sudah menikah dengan pujaan hatinnya yang biasa dia panggil A’ak (moga-moga langgeng n tambah pinter jok dadi kopler tok nit.. hehehe)

Yang ketiga adalah Vivin Wulandari, seorang cewek yang masih satu jurusan dengan sang Kopler yang biasa dipanggil Sadu ato pipien sama anak-anak. Dia yang paling jago masak diantara kami semua, hemh,, apalagi kopi buatannya uenak tenan pokoknya hehehe. Dengan logat Madura yang khas begitulah cara dia ngomong. Dibalik sifat lugunya ternyata dia memiliki charisma paling tinggi untuk urusan cinta, apalagi kalau lawannya masih dalam taraf seorang “Berondong” hahaha,, dia emang seneng banget kalau berurusan dengan yang namanya “Berondong”. Pada suatu ketika saat kami semua sedang mengadakan rapat harian di posko dia kutimpuk dengan gulungan buku yang aku pegang, kalau tidak salah dia sedang asyik ngomong dengan yang lain pada saat aku sedang ngomong. Yah.. tanpa banyak basa-basi air matanya langsung meluncur deras tak dapat berhenti.(Maap pien khilaf… hehehehehe).

Luluk Wulandari, seorang cewek lagi dari jurusan sastra yang berasal dari Banyuwangi. Manis tapi sayang otaknya agak lemot,, (LoL I’m so sorry to said that luk) cara dia ngomongpun masih terkesan formal dan banyak sekali basa-basinya padahal tujuannya ke C lha kok dia cerita dari D hehehehe, banyak gak nyambunge pokoke. Ingantan tentang dia nyerintil begitu saja dalam otakku, ceritanya saat dia jadian dengan anak desa sana dalam kurun waktu yang gak sampai hitungan sehari penuh. Dan gak tanggung-tanggung cowok yang digaetnya tuh adalah anak seorang perangkat desa tempat kami KKN hehehe… dan sampai saat inipun si cowok itu masih sering bertanya kabar tentang si Luluk (tanggung jawab dirimu luk…. wkwkwkwk)

Novia Maharani, cewek manis dari ambulu yang memiliki suara imut seperti Sandi “Preman Kecil” siswi jurusan ekonomi yang ternyata seorang yang ulet juga. Saking uletnya dia yang berhasil menemukan tempat dimana sinyal telepon bersemayam (Semangat sekali nek disuruh telpon-telponan wkwkwkwkw). Dan terlihat sangat begitu aktif kalau pada saat dia sedang bertelepon ria dengan gebetannya (“Bicara denganmu tak cukup satu menit dua menit tiga menit” pinjem iklane Ind**t)

Rizki Ayu P.S, pendiam, menengan, ndak banyak bicara (eh,, opo bedane..?? hehehe) “Mbah” begitu aku menyebutnya, alasane saat aku lihat nama file foto yang dia kasihkan ke aku. Satu yang aku ingat dari dirinya yaitu saat ia ngomong “Kebun Ketela,,” ungakapan yang ia sampaikan waktu aku bersama dyah mau mengambil gambar yang ada di dalam Polindes. Maklum malam itu malam jumat dan di belakan Polindes tersebut ada kebun ketela. Wkwkwkwkwk.. itu saja ingatanku tentangnya yang sampai sekarang melekat.

Dyah Febrianti, siswi kedokteran yang aslinya ceriwis tapi berubah menjadi pendiam pada akhir-akhir masa KKN sampai sekarang aku gak pernah tahu kenapa (opo’o dirimu dy..??) dia adalah seorang yang selalu mengingatkanku pada deadline-deadline ataupun pada hal-hal kecil tapi penting yang sering sekali aku melupakannya (Matur Nuwun dy,, wes sering ngilengke aku)

Arini Addina Yasmin, Seorang siswi dari jurusan HI (Hubungan Internasional), pinter, wawasanya tentang sastra juga banyak, aku saja yang notabene anak sastra aja kalah dengannya, harusnya kamu masuk di sastra njess. Dia seorang cewek yang sangat haus dengan yang namanya kebebasan, dan sangat mencintai “Ketidak Jelasan”. Sangat suka dengan kata-kata “Cinta” hingga semua teman ia panggil dengan sebutan cinta. (Mendeskripsikan dirimu itu penuh dengan ketidak jelasan njess, sampai-sampai aku bingung mau nulisa apa..)

Dan yang terakhir ini masuk dalam kelompok kami karena sebuah kecelakaan dan namanya adalah Arief Kurniawan (untuk lebih jelasnya Tanya pada yang bersangkutan aja, ada kok FBnya).

Kami menyebut kelompok kami dengan sebutan “SADU” yang artinya SAntai dulu baru GeriDU. Kami bersembilan ditempatkan di kecamatan Ledokombo di Desa Sukogidri. Gidri, begitulah kami biasa menyebutnya. Disana semua kehidupan kami terpenuhi walaupun dengan ala kadarnya. Sampai-sampai sinyal dari ponsel kami semua pun juga ala kadarnya tepatanya antara ada dan tiada. Kamipun harus berjalan kesana-kemari demi mendapatkan sinyal.(Kebiasaane Novia neh..) Namun dengan semua keterbatasan itu semua kami masih mampu melalaui 45 hari disana dengan penuh suka dan duka. (kalian sebutin suka dan dukane dewe-dewe yah)

Disana kamipun kenal dengan seorang wanita paruh baya yang biasa kami panggil dengan bu. Nanik, beliaulah yang merawat dan selalu menemani kami melalui malam-malam di Gidri. Hampir meleleh juga air mata ini saat mengingat wajah beliau yang dengan sepenuh hati menjaga kami semua. Kalimat yang paling ingin aku dengar darinya untuk sekarang ini hanyalah “Biddeng cong??” (Bahasa Madura yang berarti “Kopi nak?” bener po gak tulisanku iku?? Hehehehe).


"Sekilas tentang dirimu yang masih begitu jauh dari dekapanku”

16 January 2011
Diiringi dentuman No easy way out – BFMV
Di Atas Kapal Pecah

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More