2.
Hemh,, di bulan ke dua, tiga, empat, lima, serasa gak ada kejadian yang bisa aku catat dalam note ini, hehe.. ato emang ingatanku yang buruk yah,,?? Ah sudah lah .. gak perlu ruwet, kan aku sudah minta maaf sebelum aku nulis nih note, hehe.. Tapi yang jelas di Bulan-bulan tersebut ku lalui bareng dengan para Lowo2 Kampung salah.. (Masihkah Kalian Hidup diwaktu malam Kawan???) meski tak ku tulis dalam note ini, kenangan itu tak mungkin aku lupakan, terutama si Sakaw yang gak pernah PulKam sampai saat ini (Kayaknya kamu gak pulang juga tahun ini kaw..???? hehehehe)
Eh,, tapi ternyata masih ada ingatan yang nyempil dalam memori otakku. Yah, aku masih ingat di sekitar akhir bulan ketiga tahun 2010 yang telah lalu itu, aku sempat keranjingan dengan sebuah barang elektronik yang bernama HaPe yang memiliki fitur aneh-aneh. Maklumlah.. ndak pernah pegang hape yang berwarna dan dapat memutar musik, paling pol hanya punya hape yang monochrome dan hanya bisa buat Smesesan dan tilpun-tilpunan, dan sampe sekarang aku masih setia menggunakannya (sayang,,?? apa emang gak punya uang Pak Boss?? hehehe). Kisahku bersama HaPe berwarnaku itu hanya mampu bertahan hampir dua bulan saja. Tragisnya dia hilang dari genggamanku karena adanya orang ketiga (Kayak pacaran aja yah… hahahaha). Dan yang paling tragis lagi “KEMALANGAN” tersebut tidak saya alami sendiri, aku ditemani beberapa kawanku AsDho, Sakaw, Rangga. Kami berempat secara serempak dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya telah kehilangan barang yang paling kami sayangi “HaPe” (AsDho, Sakaw, Rangga terima kasih yah karena telah menemaniku waktu itu hehehehe…)
Kejadian itu terjadi saat kami masih terlelap dalam buaian sang “dewi malam” eh,, salah “Dewa Fajar” hehehe, karena kami terlelap saat si fajar masih semi-semi malu (Dasar,,!! emang pantes kami-kami semua disebut LOWO). Tepatnya kejadian itu terjadi sekitar pukul 06.30 pagi tapi gak tahu juga sebenenya kapan itu terjadi soale kan kalian tau sendiri kami masih sangat terbuai oleh lamunan sang bunga tidur (hahahahaha mangkanya bangun kawan..). Saat itu, sekitar 1 jam setelah Yoga berangkat sekolah (Adikku neh hehehehe,,,) dengan tergopoh Rangga masuk dan membangunkanku dengan pertanyaan yang sampai sekarang ternyata masih aku ingat
“Kang, Kang, Kang,,,,,, (entah berapakali),
HaPene pean onok tah gak?? (HaPemu ada gak??)” kata Rangga waktu itu.
Hehm, langsung saja tanpa mikir aku bangun (Biasane aku masih mikir waktu aku baru bangun “Kenapa Aku bisa bangun??” hehehe) dan mengangkat bantalku, soalnya aku sangat suka naruh Hape dibawah bantal dulu (sekarang sudah gak pernah trauma mungkin.. hehehee).
“Lah kok gak ada kemana yah HaPeku yang cantik nan elok itu??” batinku.
Selang beberapa menit setelah aku obrak-abrik isi kamarku, Rangga menambahi
“HaPeku, HaPene Sakaw, karo wek’e Dho yo gak onok kang, koyoke onok maling melbu iki kang!” (HPku, HPnya Sakaw, dan punya Dho juga gak ada mas, kayaknya ada maling yang masuk nih) cerocosnya.
Seketika itu juga tubuhku langsung lemas kayak gak mempunyai tulang wes… apa lagi saat aku periksa nomer HaPeku pake HaPenya Gange yang pada saat itu juga terkaget dan langsung lari keluar memeriksa TVnya yang terpajang di ruang tengah. (Beruntung dirimu sodara hehehehe)
Ah,, Jadi pengen marah kalo aku ingat “KEMALANGAN” itu. Masih sempatkah kalian merindukan HaPe kalian itu kawan?? Dan yang jelas itu merupakan surprise yang paling indah bagi kehidupan kita yah?? Hehehehe (Jangan Nangis Lho.. Ntar jadi 4L4Y kalian, wkwkwkwkwk ).
Ganti cerita yah,?? Gak papa kan??
3.
Sebenere aku males mau nulis cerita yang satu ini, tapi mau bagaimana lagi. Ini cerita yang semoga saja bisa jadi cermin buat sahabat2ku semua yang baca cerita ini. Hemh,,,, jadi teringat pesan kakekku
“Le, kamu tahu apa yang dimaksud dari kata wotsirat atau kalau dalam islam itu siratalmustakim? Yang dalam ceritanya itu sebuah jalan yang sangat tipis dan kita harus melewati jalan itu waktu kiamat nanti” kata kakekku.
“Ndak tahu mbah” sambutku.
“Hal itu sebenarnya sudah kita ketahui dalam dunia ini, dan ada dalam tubuh setiap manusia, dan terkadang manusia lupa bagaimana cara menjaganya” tambahnya.
“Apa itu mbah?” tanyaku
“Itu adalah lidah, setiap orang punya, tapi sekarang sudah jarang sekali orang tahu bagaimana cara menjaganya” jelas kakekku.
Kembali pada rencana awal, cerita ini merupakan bukti dari kata-kata kakekku diatas. Sore itu ketika aku mempersiapkan materi ujianku dengan cara menyalin materi ke lembar kosong (halah ngomong aja gawe ngerpek.. wlwkwkw). Di ruangan depan itu ada Aku, Gange, Rangga, dan mbak Fitri (Istrinya bang Roni), kami berempat asyik ngobrol panjang lebar mulai dari masalah sekolah sampai yang namanya “Ayam Kampus”,(padahal ya gak pernah ngerti bentuk dari Ayam Kampus itu kayak gimana hehehe). Seiring dengan berjalannya waktu, obrolan-obrolan yang pertama dingin itu berubah menjadi panas dan sama sekali tidak kondusif (we’e.. kayak rapat aja kondusif.) Percekcokan itupun terjadilah, antara Gange dan Rangga, yang beradu mulut. Perkaranya mereka berdua sama-sama tersinggung dengan ejekan-ejekan mereka sendiri. (detailnya kalian tanyakan sendiri yah,, pada yang mengalami kejadian itu). Padahal hari itu kami semua sedianya akan ditraktir makan dengan Ulfa (cewe’nya Sakaw waktu itu gak tau lagi sekarang..?? hehehhe). Jadilah hari itu tidak ada makan gratis, malah yang ada ngopi tiga kali dalam semalam (kembung kopi perutku waktu itu kawan,, hehehehe)
Kejadian diatas tuh terjadi sekitar akhir bulan mei atau juni. Akh,,tak perlu detail waktu terjadinya. Yang patut aku dan kalian semua ketahui tuh,, jagalah lidah kalian, karena lidah itu kalau kata bang Haji Oma Irama tajamnya mengalahkan tujuh bilah pisau yang ada didunia ini.



0 comments:
Posting Komentar