Senin, 30 Mei 2011

“Catatan Harian si Anak Hilang”


Sebuah catatan kecil tentang obrolan-obrolan kecil ku dengan Dedy Crutz di. sebuah kedai susu di lingkungan kota Jember bagian selatan tanggal 27 Mei 2011 Jam 20.30-23.00


Catatan yang aku tulis kali ini merupakan sebuah catatan kecil dari hasil obrolanku bersama seorang teman. Dan tulisan ini juga aku anggap sebagai sebuah jawaban atas tantangan dari seorang teman yang menemaniku mengobrol atawa rasanrasan (temanku lebih suka bicara begitu). Malam itu kamipun dengan sukses dan telak menertawakan sekaligus mengucapkan berterima kasih pada sebuah artikel dari salah seorang pakar bahasa yang memiliki nama besar di era 70an. Karena tulisannya kamipun tak akan mungkin bertemu dan mengobrolkannya. Dan aku pun mungkin tak akan mampu memberedel otakku hanya untuk sebuah Tugas Akhir Kuliah. Hehm,,, atau mungkin juga tulisan ini adalah sebuah keluh kesahku yang berhasil aku tumpahkan ditengahtengah kesibukan penyusunan Tugas Akhir itu. Sebuah Karya yang wajib dikerjakan oleh setiap siswa hanya untuk sebuah titel ‘Sarjana’, yang parahnya titel tersebut telah menjadi sebuah tuntutan dalam kehidupan sekaligus dianggap keramat oleh orangorang awam. Bisa juga dalam tulisan ini aku menemukan sebuah kebebasan dalam menulis. Karena aku merasa begitu tertekan saat aku menyusun sebuah Karya Tugas Akhir yang penuh dengan aturan dan tetek bengeknya yang lain.

Kata “Anak Hilang” diatas mungkin juga bisa menjadi representasi sebuah keadaan yang sedang kami alami saat ini. Yah.. Seorang anak manusia yang berada jauh dari desa tempat tinggal kami, karena kami sedang terjebak pada sebuah situasi yang sempat membuat kami ketakutan. Yah... kami terjebak di sebuah tempat yang didiami banyak sekali ‘Hantu’ yang sering berkeliaran padahal di tempat tersebut kami hanya ingin memperoleh sebuah ilmu, ilmu pengetahuan tentunya...... hehehehe....

*

Ah,,, aku sedang tak ingin membahas soal ‘HantuHantu Kampus’ itu untuk saat ini. Dalam racauanku ini tersimpan sebuah misi sebenarnya.... Aku mendapat sebuah tantangan untuk mengkomparasikan 2 buah cerita yang aku dapatkan dari media. Cerita ini memiliki kesamaan dan perbedaan yang sangat kental secara bersamaan. Persamaan mereka adalah samasama menceritakan aparat Negara yang sangat dibenci sekaligus menjadi sebuah citacita bagi anak anak muda di zaman ini mungkin. Bedanya, adalah expose dari media yang terkesan tidak adil dalam pemberitaannya. Hehm,,,, media oh media…

Ide komparasi ini memang berawal dari tantangan seorang teman agar aku membuat semacam diary tapi dengan syarat aku harus mengaplikasikan segala teori yang aku dapat selama masa studyku, walaupun pada dasarnya teoriteori tersebut hasil dari bacaanku sendiri dan mungkin juga dari obrolanobrolan kecil yang aku lakukan diluar lingkup bangku perkuliahan, walaupun tidak menutup kemungkinan aku juga mendapatkannya dari bangku tersebut. Namun memang sedikit banyak aku mendapatkan teoriteori itu dari obrolanobrolan yang aku dan temantemanku lakukan di kantin. Itu mungkin juga menjadi salah satu penyebab aku lebih suka duduk santai di kantin dibandingkan harus duduk tegang berhadapan dengan manusia yang sudah terlanjur dianggap sebagai dewa oleh temantemanku karena omongannya adalah sebuah perintah yang wajib dilaksanakan dan tidak dapat diganggu gugat. Padahal kalau kita sadari kebenaran yang mutlak hanyalah milik sang Penguasa yang selalu berterbangan. Kebenaran yang ditawarkan oleh ‘Dewa’ jadijadian ini bukanlah sebuah kebenaran yang mutlak dan harus kita percayai secara penuh. Wah… aku jadi teringat sebuah kata yang pakai seorang filsuf barat dalam sebuah karyanya; ‘epistema’. Yang sedikit banyak menerangkan tentang sebuah kebenaran.  katanya “‘Truth’ is to be understood as a system of offered procedure for the production, regulation, distribution, and operation of statements” (Foucault, 1980:133).

**

Wah… kok malah ngelantur nih,…. Oke aku kembalikan tulisan ini pada Rencana awalnya “komparasi dua buah cerita”. Cerita pertama; Mungkin kalian semua tahu kisah seorang Brigadir Polisi muda yang bernama Norman Khamaru kalau gak salah. Yang secara mendadak mucul ditengahtengah hiruk pikunya perebutan kursi kepemimpinan PSSI yang sampai saat ini tak kunjung selesai (PSSI: red) dan menghilang kembali tanpa pernah disadari oleh masyarakat. Di awal pertemuanku sekitar 2 bulan yang lalu dari peberitaan sebuah media tentunya, aku sempat berasumsi bahwa ia akan segera dihukum oleh atasannya karena ulahnya yang terkesan tidak melaksanakan tugas dengan sungguhsungguh’nyatanya’ seperti yang direpresentasikan oleh media, ia hanya dihukum menyayi dan bergaya seperti yang ia lakukan dalam rekamannya (wah… jadi ingat waktu masih SD dulu, sering disuruh menyanyi karena sering lalai tak mengerjakan tugas hihihi…) yang telah diunggah dan dilihat orang banyak di salah satu situs internet yang sangat terkenal. Tentu saja aku sempat merasa kecewa dengan hukuman yang terasa aneh untuk sebuah kesalahan yang dilakukan oleh seorang anggota kepolisian yang terkenal angker dan tak pandang bulu saat mereka menghukum orang yang salah.

Hehm,,, tapi itu masih bisa aku maafkan, karena seorang Norman yang sekarang telah diNorma[L]kan ini juga seorang manusia ciptaan Tuhan yang memiliki rasa bosan dan rasa ingin bersenda gurau diwaktu senggangnya hanya untuk melepas rasa suntuknya. Mulai dari sinilah media mulai mempermainkan sebuah makna dari representasi yang mereka berikan kepada masyarakat, yang terkadang terlihat begitu kontras atau yang lebih dikenal dengan kata ‘paradoks’ dalam lingkungan kuliahku. Hal ini semakin mengingatkanku pada artikel seorang linguist yang sempat kami tertawakan pada saat itu, tentang sebuah encoding/decoding; “the codes of encoding and decoding may not be perfectly symetrical”(Hall, 2005:119) karena “these codes are the menas by which power and ideology are made to signify in particular discourse”(Hall, 2005:123). Dengan alasan itulah Hall menganggap pemaknaan yang telah dimiliki oleh audience adalah sebuah understanding dan juga sekaligus menjadi misunderstanding atau (untuk misunderstanding) sebuah kesalahan pemaknaan karena telah dipengaruhi oleh struktur pengetahuan mereka telah didominasi oleh sebuah kekuatan yang terkadang tanpa kita sadari muncul seperti hantu dalam setiap manusia. (we’e,,, iyo tah…???)

Dari Racauanku diatas ternyata terdapat 2 buah premis minor yang berhasil aku tangkap dari cerita si Norman; 1) Seorang anggota polisi yang notabenenya harus selalu siap siaga dalam bertugas tapi malah lalai akan tugasnya, 2) Manusia bukanlah sebuah robot yang selalu menjalankan perintah tuannya tanpa sedikitpun kesalahan, karena manusia juga masih butuh yang namanya bersantai dan melakukan sebuah kesalahan. Sementara itu premis mayor yang berhasil dengan sukses yang mengisi otakku adalah Media berhasil memanfaatkan kekosongan makna diantara kedua premis tersebut. Hingga mereka menerima cerita tersebut dengan sangat terbuka. Karena mereka merasa terhibur dengan adanya seorang artis dadakan dari salah satu anggota kesatuan polisi.

Hingga pada akhirnya aku mempunyai sebuah kesimpulan yang terkesan sangat mendadak, bahwa media disini mencoba untuk membentuk sebuah makna baru tentang kepolisian. Hal yang dilakukan inipun sama seperti seorang pujangga yang sedang membuat sebait syair yang penuh sekali dengan metafor. Metafor menurut seorang pakar bahasa “does not transfer the predicate from one place, it is also transfer the whole reality. This function can recognize our perception”(Ricouer, 1977:79).  Metafor disini memunculkan sebuah split referrence yang beroperasi seperti sebuah pernyataan: adalah ini dan adalah bukan ini (maaf kawan untuk kali ini aku mengambil sebagian kata dari tulisanmu). Hal itu dikarenakan didalam sebuah media mecoba untuk memproduksi ulang sebuah realita yang direproduksi sebagai sebuah produk yang sangat mendekati yang ‘riil’ itu sendiri. Dari sini juga aku masih berasumsi bahwa sebuah tulisan berita dikoran maupun media yang lain adalah berisi berbagai macam ‘kemungkinan’. Seperti tulsan Ricouer lagi “Though fiction and poetry, new possibilities of being in the world as opened up within eveyt day reality”(1981: 42)

Hal ini telah sukses dilakukan media secara telak sama seperti saat kita melihat sebuah acara reality show “Jika Aku Menjadi” dalam acara ini aku seakan melihat sebuah paradox. Bagaimana tidak dalam program tersebut kita disuguhi dengan tontonan tentang sebuah kemiskinan yang terkadang mampu menarik kita pada perasaan haru membiru saat melihat si miskin menjalani hidupnya dengan bergelimang kekurangan. Dan pada sisi lain yang terkadang luput kita pikirkan saat perasaan kita sudah terkadung larut dalam keharuan. Tanpa kita sadari media telah meng”eksploitasi” sang miskin yang memberikan berbagai macam keuntungan tersendiri bagi si producer. Pembacaanku kali ini memanglah sebuah terapan atas solusi yang ditawarkan oleh Stuart Hall yaitu: membaca atau melihat sebuah berita atau sebuah acara yang ada di TV secara terbalik atau simpelnya kita harus menukar asunsi awal kita saat pertama kita lihat sebuah berita dengan lawanannya. Dalam cerita si Norma[n]/[l] masyarakat terlanjur menerimanya seperti asumsi yang orangorang biasanya lakukan. Dengan kata lain masyarakat masih hanya melihat apa yang tampak untuk membuat asumsi mereka dengan cara mereprodkusi sebuah habitus. Mereka masih menolak untuk memproduksi sendiri asumsi mereka (the modality of power to be). Mungkin saja ini terjadi karena terlalu sering kita melihatnya hingga kita menganggap itu sudah menjadi kebiasaan kita (habitual) atau dengan kata lain ada sebuah ‘kesadaran palsu’ yang menguasai otak mereka. Ini mirip sekali dengan sebuah model ‘Propaganda’ tentang sebuah pemaknaan yang selalu diberikan kemasyarakat hingga mereka merasa bahwa yang mereka anggap hal itu sudah berasal dari diri mereka dan itu benar. Padahal makna yang mereka buat bukanlah karya mereka sendiri tapi sebuah makna yang sudah dikonstruksi oleh si author(ity) itu sendiri dengan cara memberikan sesuatu yang terlihat seperti ‘nyata’ padahal bukanlah yang nyata. Karena sebuah kenyataan itu terlalu luas untuk mereka gambarkan.

Mungkin ada sebuah tujuan dalam hegemonic sebuah bahasa yang dilakukan oleh media tentang keartisan Norman. Seperti ada sebuah tujuan untuk mengambil sebuah keuntungan yang munkin lebih banyak dari yang didapat oleh artis dadakan ini. Atau mungkin telah ada kongkalikong antara pemilik media dengan pihak Kepolisian ibarat sebuah simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan (ada hitungan tersendiri mungkin…?) Karena mungkin semuanya itu terjadi. Dan seandainya hal yang terakhir ini terjadi berarti Si Briptu itu sendiri berposisi sama seperti keadaan si Miskin yang dieksploitasi habishabisan hanya untuk mendapatkan sebuah keuntungan. (wah… kasihan sekali dirimu Man…… enkau telah sukses ditipu mentahmentah oleh media dan polisi yang telah membesarkannya).


***
Wah,,, kok panjang….. ehm,,, ada satu cerita lagi yang harus aku beredel lagi tuk menggenapi istillah ‘komparativ’ dalam tulisan ini. Cerita yang kedua berasal dari daerah Kulon Progo yang masih termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah. Tak Banyak referensi tentang cerita ini. Aku mendapatkannya dari salah seorang kawan yang asli dari Lombok. Kawanku yang satu ini adalah seorang yang sangat menyukai para pemikirpemikir kiri (terutama kalau berhubungan dengan orangorang yang tertindas). Dia memberiku sebuah artikel yang ia posting juga disalah satu club yang berada di situs FB. Kalau gak salah judulnya “Kronologi dan Pernyataan sikap PPLP atas Penculikan Terhadap Tukijo oleh Polisi Resor Kulon Progo

‘Tukijo’?? siapa dia..??? lho kok Polisi yang menculik…??? Aneh.,,,,, pertanyaanpertanyaan ini yang sering muncul saat aku membaca artikel tersebut. Kenapa polisi harus menculik? Seharusnya kan polisi yang menjadi penolong saat ada seseorang yang diculik tapi disini bagaimana bisa Polisi itu jadi penculik seseorang. Wah ada yang aneh ini… selanjutnya kubaca dengan pelan artikel tersebut, dengan pelan…… Hingga pada akhirnya aku menemukan pernyataan seperti ini:

“Tukijo lalu bertanya kepada salah seorang Polisi dirinya akan dibawa kemana? Polisi tersebut menjawab bahwa itu terserah Komandan…… Tukijo ditunjukkan surat Penangkapan atas dirinya dengan tuduhan:………”

Dari kalimatkalimat diatas aku menemukan sebuah kata yang hampir mirip penggunaannya dengan kata ‘Penculikan’ dan kata tersebut adalah ‘Penangkapan’ yah… ternyata ini yang dimaksud penculikan oleh si pengarang artikel ini. Wah,, ternyata lagi lagi aku menemukan sebuah metafora yang ditawarkan oleh si penulis artikel ini. Dia mencoba untuk keluar dari asumsi orangorang yang biasanya menggunakan kata ‘penangkapan’ ketika ada seorang maling atau rampok yang tertangkap oleh polisi, tapi disini si penulis menggunakan kata ‘penculikan’ yang memiliki makna yang berlawanan dengan kata ‘penangkapan’ itu sendiri.

Tapi sebenarnya si penulis juga masih belum mampu untuk keluar dari asumsi orangorang, karena kata ‘penagkapan’ yang memiliki kesan sangat buruk dalam otak tiap orang juga masih saja menguasai si penulis artikel ini sendiri. Si penulis masih saja mencari penguatan untuk kata penculikan. Hal ini terlihat pada kalimat “Penangkapan Tukijo oleh Polisi merupakan pelanggaran terhadap UU No. 8 Tahun 1981” ini merupakan sebuah penguatan bahwa penangkapan Tukijo itu sendiri merupakan sebuah perbuatan yang tidak benar. Dan hal inipun makin menguatkan bahwa ‘Penculikan’ eh salah… ‘Penangkapan’ Tukijo merupakan sebuah tindakan yang tidak benar walaupun sesungguhnya memang benar. Split Reference yang ditawarkan oleh si penulis ini memang sempat menarik perhatianku tapi saat aku meneruskan bacaanku ternyata penulis masih juga terjebak pada modality of power of being given itu sendiri. Kata ‘Penculikan’ yang ia tulis masih belum mampu meproduksi makna itu sendiri dan tapi masih dikuasai oleh asumsi orangorang biasanya. Dan akhirnya akupun juga sempat terjebak pada sebuah pemaknaan tunggal yang ingin disampaikan oleh si penulis. Dan memang begitulah adanya, penulis menginginkan kita untuk memiliki sebuah persepsi yang sama seperti mereka. Aisih,,, kumat sudah penyakitku kalau melihat tulisan yang nyeleneh… kalau kayak gini ntar malah gak jadi compare-nya dan catatan harian ku ini terkesan timpang jadinya.

****

Rencananya cerita Tukijo ini aku gunakan untuk membongkar kuasa yang dimiliki sebuah media. Jadi hal yang sebenarnya aku lakukan bukanlah sebuah komparasi yang benarbenar membandingkan.

Hehm, ada sebuah keanehan lagi yang kudapat dari cerita Tukijo ini dan mau tak mau aku harus mengikuti apa yang diinginkan oleh si penulis artikel ‘Penculikan Tukijo’ ini dengan menganggap bahwa Polisi memang sedang melakukan perbuatan yang salah. Walupun dengan perasaan berat tentunya aku menerima kata ‘Penculikan’ sebagai pengganti kata Penangkapan. (Huhuhu… gak rela… merasa sangat terganggu sekali)

Ada sebuah ketimpangan disini, saat dimana Briptu Nurman mendapatkan expose yang terkesan sangat berlebih dari media. Berita tentang ‘Penculikan’ Tukijo ini malah terlihat sangat kurang diexpose oleh media. Damn,,, ternyata media bisa pilih kasih juga huhuhu L. Bagaimana tidak aku mendapatkan informasi ini dari artikel seorang teman dan saat aku ketikkan nama Tukijo di “Google” yang muncul hanya beberapa link walaupun ada 2 buah link yang berbahasa luar tapi nasib kabar Tukijo masih belum bisa menandingi berita ‘Norman’ yang hampir setiap media memberitakannya. Sedangkan berita tentang ‘Tukijo’ masih bertaraf regional.

tuh… link diatas ini buktinya kalau berita Tukijo masih bertaraf lokal daerah dan tidak mampu menyaingi keperkasaan berita Briptu Norman yang menguasai hampir seluruh media yang ada di Negara kita ini mulai dari yang lokal hingga yang bertaraf Nasional. Sama seperti halnya Tukijo yang tak mampu melawan kesembilan Polisi yang menangkapnya. Ah.. ternyata berita tentang si kecil masih belum bisa menarik perhatian masyrakat negeri ini. Atau memang wartawan media hanya menginginkan sebuah profit agar mereka mampu bertahan ditengah zaman yang semakin amburadul ini. Mereka juga memiliki keluarga yang setia menunggu kepulangan mereka dengan membawakan sebuah amplop yang berisi uang untuk kelangusngan hidupnya.

Atau mungkin masyrakat termasuk aku juga mungkin masih sibuk mengagungkan sesuatu yang instant, karena tanpa mereka mengerenyitkan dahi mereka telah berhasil mendapatkan pemahaman. Mereka cenderung menelan bulatbulat sebuah berita tanpa harus berdialog dengan kesadaran atau otak mereka. Atau mungkin juga otak mereka memang telah dikuasai oleh sebuah ideology yang sangat kuat hingga akhirnya mereka lebih memilih seuatu yang mudah mereka terima dari pada sesuatu yang sulit mereka terima.

Menyimpang dari persoalan media, Ternyata disini ada sesuatu yang muncul dari cerita Polisi. Penulis artikel tentang ‘Penculikan’ Tukijo ini, terlihat ingin memperburuk citra Polisi dimasyarakat. Polisi yang seharusnya sebagai pamong rakyat ternyata masih saja menggunakan kekuasaannya untuk bertindak sewenangwenang kepada rakyat yang seharusnya mereka lindungi. Mereka terkesan begitu tunduk pada sang Komandannya seperti kalimat yang ada di dalam artikel yang ditulis oleh temanku “Itu terserah Komandan”. Ternyata Polisi juga sama seperti halnya Mahasiswa yang selalu tunduk pada Dosennya hanya karena mereka tak ingin mendapatkan nilai jelek saat akhir semester nanti. Walaupun Dosen itu salah, mereka masih terkesan menganggap bahwa Dosen adalah seseorang yang patut untuk disembah dan harus ditaati. Kita sebagai Mahasiswa seharusnya bisa memahami bagaimana cara melawan yang baik dan tidak terkesan melukai hati si Dosen. Kita disini hanya kalah umur bukan berarti kita kalah akan pengetahuan.

Aku juga sadar disini aku juga sedang mendiskriminasi cerita Tukijo yang hanya aku beredel sebagian dan tidak secara menyeluruh. Entah karena kelelahan atau karena sedang kekurangan alat untuk memberedel cerita Tukijo. Carita Tukijo dan Nomran memang hampir serupa tapi mereka meiliki sebuah perbedaan yang mencolok. Ibarat sebuah dualisme yang tak akan bisa sama satu sama lain. Malam tak akan bisa menggantikan siang, Priapun tak akan mampu menyusui seprti halnya wanita, yang putihpun tak akan bisa berubah menjadi hitam walaupun si putih melumuri putinya dengan tinta hitam. Karena itu sudah menjadi sebuah kodratnya. Dualismedualisme itu tidak harus kita peributkan. Karena itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kita di dunia ini. Mereka semua diciptakan hanya untuk membuat agar kita sadar dan mengerti sebuah perbedaan. Yang harus kita lakukan hanyalah menjalani kehidupam imi secara bersamasama. Berjalan beriringan seperti dua sisi mata uang yang tak pernah bisa bertemu tapi masih bisa saling melengkapi.


Untuk kalian semua:

Kawan,,, hanya ini yang aku mampu. Aku disini hanya ingin bertukar pengalaman dengan kalian semua. Dan sekali lagi aku minta maaf atas kelancanganku karena telah mengambil beberapa kalimat dari tulisanmu (gawe Dedy hehehe). Untuk Norman, Tukijo dan media tentunya, aku haturkan maafku pada kalian, di tulisan ini aku hanya ingin bermainmain dengan otakku tidak lebih. Karena mau tidak mau kalian semua telah menjadi sebuah serpihan kehidupan yang indah di dunia ini.

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More