Setangkup senja berwarna kelabu
Iringi sepoi angin menusuk nadi
Ingatan itu mulai timbul tak beraturan
Bersama raungan para binatang malam,
Iringi sepoi angin menusuk nadi
Ingatan itu mulai timbul tak beraturan
Bersama raungan para binatang malam,
yang pekakan telinga
Hiruk pikuk sang khalifah bagai angin lalu
Tak hiraukan Debu terombang ambing pilu
Serpihan itu...!!!
Masih bermain dengan wajah sayu
Dan sang khafilahpun [masih] bagai angin lalu.
(20 Menit setelah disapu angin 20 mei senja itu....)



0 comments:
Posting Komentar